16 Agustus 2014

Long Way Home



Apa yang menggelisahimu dulu ternyata tak bisa kau bawa lelap dalam tidur panjangmu. Ia berpindah haluan ke tengkuk dan pundakku. Aku tak bisa lari atau berenang atau bahkan terjun dan terbang menghindarinya. Mungkin sebuah tanya yang tak terjawab bisa merembeti bulu kuduk dan terasuk ke sumsum tulang. Bila pertanyaan tak terjawab ia akan menjadi virus yang mampu beterbangan meloncat dari wujud ke wujud. Bila ribuan tanya tak terjawab juga, wujud itu mengisi dan memadat, ia bukan sekedar angin lewat, ia bisa terlempar dan memecahkan kaca-kaca. Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab membuatmu mewujudkan sebongkah bola kasti dari besi. Ia mungkin saja siap menyakiti.


video

 Abandoned Love (audio live version) - Bob Dylan 


31 Desember 2013

Sepekan Bersama Bundakata



Sebelum tutup tahun, sebaiknya peristiwa awal November lalu tak kutunda lagi untuk dicatatkan. Menunda memang biang lupa…begitupun ingatan ini mungkin tak sejernih ketika malam itu aku pulang bergerimis,  sambil terus mengingat hari terakhir Bundakata di Semarang. Stan Bundakata urung kujaga malam itu, karena baru datang selepas Maghrib dan waktu tersisa hanya beberapa jam sebelum pameran buku ditutup. Beberapa stan sudah merapikan diri karena itu hari terakhir pameran Semarang Sejuta Buku (12 November). Aku tak berharap banyak malam itu, hari terakhir dan malam selepas hujan membuat pameran lebih sepi dari sebelumnya. Aku memasuki ruang pameran dan memilih untuk masuk ke stan buku bekas yang belum sempat kuhampiri sejak kemarin. Setelah membeli beberapa buku cerita bergambar, aku kembali ke stan dan mengobrol sejenak dengan panitia di stan sekretariat yang ada di depan stan Bundakata. Meja di stan Bundakata kubiarkan melompong bersih, hanya sebuah panel berhias lembar-lembar tulisan yang tak lagi rapi yang menandai keberadaannya.

Memang ada pengunjung berlalulalang dan sejenak henti sambil mengamati lembar-lembar Bundakata. Tapi itu reaksi yang wajar, mungkin banyak yang heran dengan penampakan lembar-lembar  tulisan tertempel di panel. Bisa jadi memamerkan tulisan adalah hal yang tak lumrah, kerap kita menemui orang memamerkan karya gambar/lukisan, fotografi, patung, busana, dan semacamnya.  Tapi memamerkan lembaran tulisan berisi cerpen, puisi, sajak, artikel, dll untuk dibaca ditempat sangat jarang ditemui, paling tidak untukku. Karena itu kukira melihat orang-orang henti di stan Bundakata lalu bergegas berjalan kembali tak mengherankanku. Kuamati mereka dari seberang, membiarkan mereka leluasa membaca sambil mengamati geriknya, namun aku  tetap tak tergerak untuk berubah pikiran bahwa stan harus dibuka.

Di sela perhatian setengah berpindah pada ponselku, seorang pria luput dari amatan. Kukira dia akan lewat begitu saja dari Bundakata dan membiarkan rasa penasarannya tak terjawab dan hilang digerus waktu. Di akhir pertemuan malam itu kuketahui namanya Pak Estu. Setelah mondarmandir mengamati beberapa tulisan, akhirnya ia bertanya pada orang terdekat dari situ, apa maksud dari stan BundaKata buku gotongroyong. Mas Awang dari sekretariat yang kebetulan bertukar tempat denganku menjelaskan semampunya, ia mungkin merasa si pengunjung sekedar ingintahu saja tanpa banyakbanyak menuntut kejelasan (seperti kebanyakan lainnya). Ketika keingintahuan Pak Estu makin merekah dan memanjang waktu, akhirnya kuhampiri stan dan kubongkar isi kardus yang berisi lembar-lembar Bundakata, menata semuanya dimeja, dan mulai menjelaskan.



Arus Kecil dan Sebuah Peristiwa




Kota Semarang menjadi ruang eksperimen pertama dari gagasan Bundakata: buku gotong royong. Gagasan ini diawali dari Cak Udin dan Pak Koskow yang ditulis dan dibagikan sebulan sebelumnya ke dinding-dinding jejaring sosial beberapa kawan yang berminat untuk menulis. Awalnya gagasan ini sulit kupahami, kubaca berulangkali dan ragu beberapakali. Tulisannya panjang lebar, dengan misi yang tak bisa langsung kutangkap. Singkatnya ini menjadi sebuah gerakan untuk menulis dan mencetak sendiri sebuah (atau lebih) karya tulis dalam selembar kertas yang dilipat separo (sehingga menghasilkan 4 halaman). Temanya adalah “Buku, Istimewa”, siapapun yang tertarik bergabung bisa membuat karya dengan tafsir bebas, bisa dalam bentuk puisi, cerpen, prosa, artikel, komik, dll. Karya yang terkumpul dipamerkan dan dihamparkan pada pengunjung, mereka bebas menyusun karya mana yang akan disatukan dan dijilid menjadi buku. Penjilidanpun sesukanya. Bisa dibarter dengan apapun karna penulis sudah menanggung biaya cetak karya mereka sendiri.

“Masing-masing penulis telah mengeluarkan sejumlah rupiah guna menggandakan karyanya. Demikian pula dengan pembaca, ia menghargai apa yang telah ditulis oleh para penulis. Cara menghargai itulah yang dilandasi nilai gotong royong, yaitu membuka keragaman bentuk partisipasi sumbangsih. Hasil sumbangsih pun akan dikembalikan ke dunia perbukuan.” *

Pada dasarnya, BundaKata menjadi sebuah ruang alternatif dalam menerbitkan karyatulis. Begitu banyak orang yang menggemari kegiatan tulis-menulis, begitu banyak pula penerbit yang melahirkan ruang bertumpu untuk menjadi penulis. Namun bukan tanpa syarat dan ketentuan. Kita mesti lihai merangkai kisah, perlu juga pembuktian telah teruji menulis diruang mana saja, sehingga rekam jejak menulis menjadi pertimbangan penerbit dalam meloloskan karya. Pada penerbit, kita juga harus setia menanti kabar berita, proses menuju final juga melalui sekelompok penyaring katakata. Penyaring terkadang memiliki standar ketat, kecenderungan, atau ramuan yang tepat agar sebuah karya tak membikin penerbit sesak napas nantinya. Ramuan yang dianggap tepat melariskan, membuat kecenderungan tersebut ditiru dan alhasil keseragaman antar penerbit dikhawatirkan justru mendikte pembaca dan calon penulis. Yang tak menjual terpaksa ‘minggir’.

Arus besar ini lalu dicoba untuk diimbangi dengan arus kecil (dan mungkin pendek), dengan sebuah ‘peristiwa’ (begitu istilahnya menurut kedua penggagas tadi). “Bukan Lembaga Tapi Peristiwa” menjadi judul pengantar BundaKata buku gotong royong, yang dicetak dan dilampirkan setiap pembaca hendak menjilid lembar-lembar pilihannya. Namun menjadi catatan, kita mungkin tak bisa menumpu pasrah pada Bundakata semata dalam mewujudkan harapan semua orang untuk membukukan karya tulisnya. Sebagai sebuah peristiwa dan bukan lembaga, ia meyakini bahwa kemungkinan(imaji) bisa dimungkinkan (mewujud). Sebuah ingatan kecil (tapi mungkin tak pendek) bahwa Bundakata dengan segala keterbatasannya menyempatkan ada, justru menawarkan ruang (kemungkinan) baru yang bisa diwujudlakoni setiap orang ketika menghendaki menulis dan membuku: tak harus melembaga atau bertumpu pada lembaga.

“Gerakan tidak selalu dimunculkan lewat/oleh lembaga. Ia juga dapat muncul lewat suatu peristiwa bersama. Upload dan download lewat semangat gotong royong.”



Menggotong-royong Peristiwa
Banyak diantara pengunjung yang mampir ke stan Bundakata menanyakan apakah ini digagas oleh komunitas dan  jika ya apa namanya. Terkadang kujawab ya terkadang tidak, hampir-hampir tidak terpikir apakah ini sebuah komunitas. Keikutsertaanku juga karena perkawanan buku yang tanpa mengikat satu sama lain. Tidak ada keharusan menjadi anggota atau pengurus. Hanya ada nama Bundakata, yang  dijelaskan sebagai buku gotongroyong, jadi mungkin lebih tepatnya sebuah gerakan meramaikan penampakan dunia perbukuan.

Seperti sebuah peristiwa dan bukan lembaga, aku hanya bagian dari buku dan kotaku, maka aku sedia terlibat didalamnya, tanpa harus disebut anggota apalagi pengurus. Siapapun bisa terlibat, pengunjung yang bersedia membarter dan pembaca yang hendak berpartisipasi menulis dan mencetak sendiri karyanya untuk diikutkan dalam pameran juga sudah dianggap ‘menggotong-royong’ peristiwa ini. Dengan demikian kita menjadi komunitas pula,  meski tak terencana dan merencana (komunitas imajiner).

Siapapun juga bisa meneruskan cara serupa atau membikin gerakan perbukuan lain, baik perorangan, kelompok, atau bahkan lembaga. BundaKata tak luput dari langkah yang sudah dimulai gerakan lain. Ia terinspirasi dari cara yang pernah diterapkan oleh Diskom Drawing Fondation (DDF), sebuah komunitas senirupa di Jogja. Ia juga terberi melalui meja-meja  berbeda yang mereka (Pak Koskow, Cak Udin, dkk lain) singgahi ketika berkumpul dan berbincang tak tentu kerangka. Hilir mudiknya ide di senggang waktu juga berperan. Kalau dipikir-pikir tak ada yang tidak berperan, setelah mengada dan memeristiwa maka hujan dan anginpun patut diperhitungkan perannya. Ia kerap muncul di malam-malamku menemani BundaKata 



Selembar Perjumpaan
Buramnya kertas daur ulang pilihan Bundakata  buku gotong-royong, dipilih untuk mengapresiasi wacana ramah lingkungan. Tulisan kerap menyumbang konsumsi berlebih pada penggunaan material kayu, maka gerakan paperless kerap digaungkan sebagai solusi atas yang berlebih tersebut. Ia digeser oleh yang digital dan ringkas. Serba ringkas dan digital ini bukan tidak bermanfaat, ia tersebar lebih cepat dan luas dibanding peran kertas. Ia penting manakala Bundakata hendak mensyiarkan gerakan ini agar semakin banyak partisipan yang bergabung, sehingga gagasan ini mewujud. Blog, e-book,e-paper, jejaring sosial, web dan semacamnya adalah pilihan yang tersedia untuk digunakan dengan berbagai motivasi menulis. Namun meng-ada-kannya lewat selembar kertas membikin aku, kamu, dia, mereka, jadi Kita. Kertas ini pun ialah kertas hasil olahan kembali. Kita diperjumpakan lewat kata tercetak, lembar tersebar dan  timbul kerut-kerut tanya dan senyum dan oooo…, jadi begitu!. Berbagai macam ekspresi kujumpai di meja pameran. Kadang masih saja Kamu tak mengerti dan bergegas pergi, meski begitu Kita tetap pernah berjumpa dan Kamu pernah terhenti karena keberadaan kami. Melihat, mendengar dan menyentuh bukan tak ber-arti sebagai sebuah pengalaman singkat, meski Kamu tak hendak melibatkan diri lebih lama lagi. Ingatan yang mungkin akan menambah ruang kecil di memorimu. 


dari ki-ka: Ibu Tirta Nursari, Novita Dian, Utami Purborini, Mba Tabitha

 dari ki-ka jarum jam: Mas Luluk, Mas Jendriadi, Pak Estu Pitarto, Kel. Ibu Erlina Wati

  dari ki-ka jarum jam: Pak Slamet Widodo, Amalia Perdana, Pak Toharadna, Pak Rafiq Ali 
Terimakasih sudah tersenyum bersama Bunda Kata...
maafkan keterbatasan saya mencocokkan nama & senyum kalian :)


Perjumpaan ini dialami juga lewat para penulis yang mungkin tak saling kenal sebelumnya. Aku sendiri hanya mengenal sebagian, selebihnya adalah kawannya para kawan. Bukan jumpa badan dan senyum dan foto bersama, kita membuat perjumpaan dengan mencetak kata-kata dan kemauan untuk mewujudkan peristiwa. Kita pernah bertemu dengan cara dipertemukan pembaca, meski diantara kita memang tak saling bersua.

Pada saat pameran, perjumpaan antar lembar-lembar itu juga menarik obrolan kala pengunjung sibuk memilih dan menyusun. Banyak anak muda (dan terutama perempuan) yang singgah dan berlama-lama bertanya. Umumnya mereka suka menulis, atau merasa tidak biasa menulis dan lebih antusias membaca. Kutemui juga Ibu Tirta Nursari penggiat Warung Pasinaon, di daerah Karang Jati dan Pak Estu dari Rumah Media di daerah Tembalang. Ibu itu bercerita tentang kegiatannya di rumah bacanya yang tidak melulu soal membaca, namun saling berbagi kemampuan/keahlian buat warga disekitarnya. Ada pula anak-anak muda yang awalnya tertarik berhenti di stan saat melihat karya komik satu-satunya di Bundakata (karya Wilsa), lalu turut ambil bagian mengunduh semua lembaran karya jadi buku. Seorang mahasiswa sastra dari Bandung di hari terakhir datang dan mengeluarkan handycam dan merekam wawancara denganku, berkata heran sekaligus antusias dengan semangat kami karena sebagian besar tulisan dibilang ‘nyastra’ sementara sebagian besar pula partisipan bukan berasal dari sastra (kubilang banyak pula mahasiswa politik atau ekonomi jadi desainer atau seniman :P).  Pak Estu yang di hari terakhir membuatku membuka stan, hendak merekamnya jadi sebuah catatan untuk di share di kegiatan rumah bacanya. Ada pula seseorang yang menanyakan apakah gagasan ini bisa dicontoh di daerahnya.

Seorang ibu yang tertarik dengan semangat gerakan ini namun menyayangkan penggunaan kertas  buram yang kami pilih. Ia sepertinya menghargai sekali peran tulisan sebagai ekspresi dan kebebasan setiap orang sehingga mengungkapkan bahwa sayang sekali jika semangat ini dituangkan dalam kertas buram yang cepat sekali rusak. Penjelasan mengenai penggunaan kertas daur ulang yang kuutarakan tak mengubah pendapatnya bahwa usia kertas buram singkat sekali. Namun ia tetap asik melipat dan menyusun lembaran-lembaran itu sembari mengungkapkan uneg-unegnya.

Menurutku kertas buram juga bagian dari melibatkan siapapun bergotongroyong. Ia membuat kita terlibat tanya yang tak mesti terjawab benar, tak mesti tersimpan, kalaupun terjawab tak mesti dimengerti lekas-lekas. Siapapun bisa mengutarakan dan mungkin memanggulkan solusi sesuai pemahamannya. Bahwa aku pribadi menginginkan buku yang mereka bawa pulang  itu harus tetap terjaga dan tersimpan dengan molek setiap saat juga tidak harus. Menyimpan dan memiliki adalah bentuk apresiasi terhadap peristiwa ini, tapi membaca dengan hati terbuka mungkin lebih kuharap-harap. Ada banyak pembaca yang mengemari punya buku daripada membaca dengan tenang dan santai (akupun seringkali demikian). Tak harus terlalu berarti, juga tak harus langsung mati. Kalaupun suatu saat kertas buram itu robek dan memudar, memori itu tetap tersimpan (entah muncul atau tidak), atau membuat memori baru dengan memungkinkan kemungkinan baru. Kalau ia hilang ia tetap akan berbicara, entah pada rumput atau dinding atau siapa saja yang menemukannya.



Barter dengan Apapun
Awalnya digagas bahwa karya gotong royong ini tidak gratis, nilai tukarnya sukarela, atau dibarter dengan buku pula. Namun dalam praktiknya beberapa keberatan jika tidak dipatok dengan nominal tertentu, karena kebingungan berapakah harga  yang pantas untuk sebuah semangat gotong-royong ini. Muncul pula pernyataan tidak siap dengan buku bekas dan tidak pasti bisa berkunjung ke pameran lagi atau tidak. Maka kemudian Mba Novi sebagai salah satu partisipan yang menulis dan membantuku di stan, menyarankan agar pembarteran bisa dipilih apa saja, semampu pengunjung. Dengan demikian pengunjung tidak terbebani harus membayar atau menukarkan buku (karna tidak siap).

Ternyata ide ini cukup membantuku secara pribadi, dan menarik pula untuk menjadi bahasan tersendiri buat Bundakata. Banyak yang membarter dengan bikin puisi langsung didepan stan, menggambar, bahkan membacakan puisi didepan stan BundaKata yang kebetulan dilintasi banyak orang karna berada tepat di depan pintu menuju ruang utama pameran. Ada kenekatan dan keberanian yang muncul dan membuat kita terpana dengan semangat seperti itu.

barter dengan apapun

Mereka yang singgah dan barter puisi sembari menjagakan stan

Semua karya tulis/gambar jika disatukan menjadi ruang pameran tersendiri selain naskah-naskah dari BundaKata. Ada pula Mas Imron yang baru kukenal di acara Happening Art malam minggu sebelum pameran, membarter dengan harmonika yang sering digunakannya ‘manggung’.  Ia bahkan menggantikanku jaga stan di Minggu Sore karna aku mendadak harus pulang. Ia mencoba menawarkan dan menjelaskan gagasan BundaKata yang mungkin agak sukar dipahami secepatnya, pula diruang yang berisik bukan main. Beberapa pengunjung yang tertarik dan memutuskan untuk membarter puisi juga dengan sukarela menjaga stan sembari asik menulis, sementara aku dibiarkan berjalan-jalan sejenak atau menonton acara diskusi yang sedang berlangsung. Mas Luluk menukarkan kumpulan puisinya yang dibuat khusus untuk BundaKata. Aku pernah mampir ke blognya dan beberapa judul puisi seingatku juga pernah diunggah di blognya. Mas Dadang membarter dengan buku “Semarang” dari Citybook yang diterbitkan terbatas, berisi tentang kumpulan tulisan mengenai Semarang dan foto-foto yang dijepret olehnya Mas Dadang sendiri. Pak Rafiq dari stan Pustaka Lebah mampir dan membarter dengan buku ilustrasi bergambar Indonesian Heritage.


Mba Rina & Mas Okik ikutan display BundaKata (kiri, tengah),
Ratna yang sepekan ikut menemani (kanan)

'Bunda' Novi (baju merah), Bundanya BundaKata :))
Cak Udin (baju hitam ngapurancang)
Pak Koskow (baju hitam kacamata di atas kepala)


ctt:
* dari pengantar Bunda Kata, Buku Gotong royong berjudul Bukan Lembaga tapi Peristiwa dokumentasi lain juga ada disini.
**sebagian besar foto diatas dijepret oleh Ratna Norhayati

05 November 2013

Buku dan Kota di Antara Kita

Menjelang pukul tujuh jumat petang, titik-titik air berjatuhan di segala muka benda dan rupa. Semarang menjelang November mulai berangin, siang begitu terik dan menyambut malam awan mulai bergemeluduk berisik. Terkadang tanpa pertanda gemeluduk, air begitu saja tumpah, tanpa basabasi diguyurkannya simpanan uap sesiangan tadi. Mungkin hanya gemerisik daun yang menyampaikan pesan langit, namun kita terlalu sibuk memikirkan hal lain. Kerja, makan, hiburan, prestasi, tugas sekolah, kasih sayang…, pokoknya tak ada ruang kosong untuk mendengarkan gemerisik daun, meski ia berada cuma beberapa senti dari tempat berdiri. 


Malam itu, menerjang angin dan tetes yang menderas, akhirnya aku melaju ke pusat kota. Hujan sedikit mengurungkan langkahku menancap gas motor, ada tanya-tanya yang  menghasut niatan berangkat cepat-cepat. Mengapa hujan turun disaat yang kami tunggu-tunggu sepekan ini? Di jalanan berhujan, terlintas Mak Ireng, yang datang khusus membantu Ibu menyiapkan pengajian sementara aku ngelayap seharian ini. Ia sempat menemaniku meratapi hujan di balkon rumah kami sebelum aku memutuskan berangkat. Hujan katanya, pertanda orang harus legawa dengan segala urusan, diam, pasrah, kepalanya didinginkan, rak sah grusa-grusu. Mendengarnya nyeletuk begitu aku jadi makin gelisah, nek ngunu aku rak ndang mangkat, batinku. Tapi kata-katanya memang bukan berarti aku harus santai-santai, ia justru menghentikan kakiku yang sedari tadi mondarmandir sambil mengunyah kue bika pengganti makan malam. Ketika lantunan doa ibu-ibu pengajian mulai bergema, aku menerobos ruang sambil tertunduktunduk karena mengganggu pandangan. Setelahnya aku memutuskan segera berangkat, dengan kepala yang lumayan mendingin. Hujan pun memelan seiring sampainya aku di lokasi tujuan.



Hujan Bagian dari Pertunjukan

Jadi, Jumat malam itu aku harus menuju Jalan Pahlawan untuk membantu kawan-kawan Event organizer buku yang datang dari Jogja. Yang memberangkatkan niatku ialah karna perkara buku dan seni di ruang publik. Tak ada keterikatan untuk membantu atau tidak. Jalinan perkawanan pun terbentuk karena keduanya. Sebuah pameran buku akan diadakan di Semarang pada Rabu, 6 November 2013. Jumat malam itu, beberapa panitia datang untuk menyelenggarakan publikasi, yang dirancang dengan format performance art di ruang publik. Tidak ada persiapan khusus seperti tenda atau sekat-sekat atau penanda lainnya. Seperangkat sound system-lah yang menandai keberadaan kami. Itupun terbilang sederhana. Dengan hadirnya hujan menjelang dimulainya acara, aku sempat berpikir mungkinkah acara batal. Memang acara molor hampir sejam lebih, kami juga menunggu kawan panitia yang terjebak macet. Sambil menunggu kehadiran mereka dan seperangkat sound system, aku mengamati beberapa kawan komunitas yang sudah bersetia hadir tepat waktu.

Tanpa mengenali mereka satu-persatu, aku salut dengan kemauan mereka menyempatkan berangkat saat hujan baru saja melewati jalanan di Pahlawan. Aku tak terlibat dalam komunitas manapun di Semarang, pergerakan komunitas kecil, sedang, sampai besar, aku tak terlalu mengikuti kabarnya. Baru di dalam acara ini, aku jadi mulai mencari-mencari. Semarang yang kukira kering hiburan alternatif, ternyata memiliki cukup banyak komunitas seni. Hanya aku tak pernah terhubung langsung, sehingga sulit mencari performer yang sudi tampil ‘ndadakan’ di acara ini.

Benar-benar bersyukur, H minus 1 seorang kawan komunitas dikenalkan padaku, dan harapan bersemi. Mas Dadang dari Komunitas Orart-oret bersedia membantu menyebarluaskan info acara pada kawan-kawan komunitasnya dan komunitas lain. Permainan jejaring sosial berperan sekali, hanya sehari kabar berhembus dari satu dinding ke dinding lain. Malam itu kulihat beberapa kawan-kawan datang membawa buku sket, seperangkat alat gambar, duduk di emperan trotoar, menikmati lalulalang Jalan Pahlawan sambil ngobrol, mengamati objek untuk di sket, ngopi dan merokok, beberapa membaca buku yang didatangkan dari mobil perpustakaan kota, santai sembari menunggu jelasnya acara. Mungkin ada sedikit kecewa, sah saja. Dalam hatiku, hujan tak patut dibiang-keladikan. Meski tak nampak tanda-tanda hadirnya sebuah acara seni, justru ia membuka pertunjukan malam itu dengan natural dan apik. Ia seakan menguji solidaritas para perawat seni di kota ini. Setelahnya, langit tak melongsorkan setitik airpun. Hujan dengan demikian, benar-benar bagian dari pertunjukan.



Membaca buku koleksi mobil perpustakaan kota




Jalan Pahlawan untuk Hari Pahlawan

Karena pameran berlangsung melewati Hari Pahlawan, maka pameran buku di Semarang kali ini mengusung tema “Buku Amunisi Peradaban”. Amunisi terkesan sangar didengar, namun konteksnya tentu bukan diarahkan pada kekerasan. Katakanlah perjuangan masa kini tak lagi relevan menggunakan senjata tajam, keras, dan panas, seperti peluru, meriam, tombak, dll. Kepahlawanan tidak harus ditujukan lagi pada pengguna alat-alat seperti itu demi perasaan berkebangsaan, pun demi membela nasionalisme. Buku sebagai penghantar konsep, pemikiran dan renungan, adalah amunisi terkini yang diramu untuk mencerminkan peradaban manusia.

Pemilihan Jalan Pahlawan kebetulan saja bisa terhubung dengan definisi dari tema yang diajukan. Namun tidak mutlak diada-adakan demikian. Ruang publik ini memiliki magnet, selain daripada bundaran Simpang Lima, dan Tugu Muda (yang berada di pusat kota). Keinginan warga untuk berkumpul di pusat bisa jadi suatu dorongan tidak sadar untuk ‘menjadi bagian dari peradaban kota’. Peradaban kota yang katakanlah dengan bahasa kerennya ‘urban’ (padahal cuma merubah bahasa). Meski hanya nongkrong di jalanan pun, atau sepedaan di sekitarnya, makan soto kaki lima, yang penting inilah ‘pusat kota’, dekat dengan gedung-gedung megah yang menawarkan segala bentuk rupa simbol ‘manusia urban’.

Pusat terkesan mendominasi, arogan, terkadang menyebalkan. Hasil terbaik dari pembangunan bisa dicerminkan dari pusat kota. Namun, hal ini seharusnya bisa disikapi dan diambil peluang terbaiknya. Pusat kota nampak tertata dan terencana, trotoarnya megah, keamanan terpantau, warung kaki lima terhimpun rapi, anak-anak muda berseliweran saling pandang, komunitas-komunitas menandai eksistensinya, anggota keluarga mengasah kekeluargaannya, dsb.  Sebuah pertunjukan seni di ruang seperti ini tentunya menambah keberagaman apa yang bisa dilihat, diamati, atau dinikmati di sebuah jalanan umum di pusat kota. Sebuah publikasi tidak harus dilihat dari besarnya baliho, pemilihan titik yang strategis, banyaknya brosur, atau media-media konvensional lain. Memberi ruang dan waktu untuk berekspresi merupakan kesempatan yang diberikan  panitia sebagai pendamping media promosi konvensional. Penampakan seni di ruang publik seperti ini menjadi pendamping dari yang pop, menawarkan alternatif tontonan, yang didalamnya juga melibatkan penonton secara aktif.



HAPPENING !

Performance art yang dinamai “Happening Art: Surat Cinta untuk Buku” ini membuka apresiasi seluasnya, tanpa batasan keahlian, komunitas, atau label-label lainnya. Memang mengajak performer lokal dan bermacam komunitas di Semarang merupakan kendala awalnya, namun dalam praktik, justru menjadi tantangan bagi seluruh pihak untuk turut partisipasi tanpa harus membawa predikat ataupun label sebagai pelaku seni.

Pada acara ini juga, tidak sepenuhnya kita bisa menghadirkan tontonan teatrikal dengan elemen-elemen simbolik seperti laiknya teater konseptual, namun justru ketiadaan itulah yang menjadikan acara minim performer itu sendiri bagian dari teater. Bukankah keseharian manusia seringkali memanfaatkan keahlian ber-teater? Teater sesungguhnya ialah melihat bahasa tubuh dan mimik dan ekspresi seharihari. Maka disini semua pihak bisa menjadi bagian dari seni pertunjukan.



Felice, band pertama yang mengisi acara




Hari pertama, Jumat Malam, diawali dengan akustik sekelompok mahasiswa dari band Felice. Selanjutnya ada Mas Dadang memetik gitarnya sendiri, lalu diikuti pembacaan puisi oleh Mas Wahyu dari komunitasnya. Lalu musikalisasi puisi dari seorang mahasiswa (dia memetik gitar sambil berpuisi, nice performance, tapi kulupakan namanya!) Pertunjukan makin alami dengan hilir mudiknya penjaja kopi instan keliling dan pejalan kaki. Kukira sebagai ilustrasi musikalisasi puisi mereka pas juga. Sebagian penonton tetap menggambar, sebagian pengemudi motor henti sejenak, sebagian orang yang duduk jauh dari lokasi pertunjukan nampak melongokkan kepalanya menyimak puisi dan berhenti mengobrol.


Lalu ada seorang yang sibuk menata buku-buku sastra dan filsafat, ia mondar-mandir tak karuan dan menulis di carik-carik kertas sambil membagikan ke audiens tak tentu siapa. Namanya kalau tidak salah ingat Rofiq. Ternyata ia sedang berteater tanpa kita sadari. Memang sikapnya agak aneh, sewaktu ditanya malah sibuk dengan buku dan penanya. Menariknya, ia memperlihatkan tipisnya perbedaan gerak-gerik manusia sebagai aktor kehidupan dengan aktor pertunjukan. Padanya aku lupa memastikan apa judul karyanya.





Saat pertunjukan berlangsung, dua lelaki asik saling menorehkan cat putih ke muka dan memerahi bibirnya sampai ke pipi, kukira mereka pasti akan berpantomim. Mereka sukarela berpentas tanpa kita undang sebelumnya. Salah satu personilnya mengatakan ia dari Teater Esha, meski malam itu terlihat nampak sebagai bagian dari komunitas Orart-oret karena sebelumnya asik menggambar. Mereka mempertunjukkan kisah gelagat dua karib yang memperebutkan buku. Yang satu asik membacai bacaannya, sedang temannya nampak iri melihat kawannya asik dengan bacaannya dan berusaha merebut buku yang sedang dipegang. Pada pertunjukan mereka, kulihat pengemudi motor yang memutuskan henti sejenak bertambah. Mungkin karena make up mereka yang nampak memancing perhatian.

Aku dikerjai, diajukan terus menerus untuk ikut membaca puisi, padahal sungguh aku tak pernah membaca puisi kecuali untuk kepentingan tugas Bahasa Indonesia di SMP! Karena enggan berpuisi, selang waktu kosong diisi oleh Cak Udin yang dipilih Pak Koskow untuk memetik gitar dan mengiringinya membaca puisi. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka sms. Beberapa sms ia pilih untuk ia bacakan ‘sebagai puisi’. Judul pengirim sms dibacakan sebagai judul puisi. Nadanya biasa saja, datar, seperti mengajak ngobrol seharihari, namun penonton tersenyum-senyum mendengarkan sms remehtemeh dibacakan sebagai puisi. Cak Udin sesekali melantunkan lagu berlirik bahasa Jawa diantara puisi sms Pak Koskow. Setelahnya, aku baru berani mencoba membacakan puisi. Koran Bertamu yang memuat puisi Mas Okik Angkawijaya aku bacakan. Namun karena puisinya puanjang, aku putuskan orang lain harus turut berpuisi ketika kuserahkan microphone. Jadi kusebut saja puisi berantai. Jumat malam itu diakhiri dengan gitaran dari beberapa orang yang makin guyub dan asiksendiri sejak salah seorang bergitaran dengan lagu-lagu Iwan Fals. Jam 12 malam lebih, acara terpaksa dihentikan karena ijin keamanan sudah melampaui jam.


Pak Koskow membaca sms sebagai puisi diiringi Cak Udin



Puisi berantai



Ruang, Waktu dan Kesan

Malam kedua di tempat yang sama, acara dipersiapkan lebih nggenah oleh panitia. Instalasi resin buku yang sebelumnya memakan waktu untuk dirakit, sesegera mungkin dirakit dan ditempatkan searah dengan lalu lintas pejalan kaki. Resin bikinan Ndruwo Art Space dari Jogja menghadirkan kembali ‘pahlawan-pahlawan’ yang dikenang dan dikenal dari Semarang. Simbol pahlawan ini (Kaver buku Soegija, not balok Gundul-gundul Pacul, lukisan Raden Saleh, dll) dicetak kembali dalam selembar kertas dan diawetkan dalam resin. Resin di pampang di tepian trotoar dalam cagak-cagak kayu didampingi dua helai kain merah putih.





Personil perkusi dari Teater Kaplink Udinus


Lagu dan nuansa yang makin terbangun saat lampu jalan tiba-tiba padam


Malam Minggu lebih ramai daripada malam Sabtu, seliweran anak-anak memainkan otopet, sepeda, dan rollerblade tumpah ruah di trotoar Pahlawan. Pukul tujuh perwakilan dari Teater Kaplink dari Udinus menyempatkan datang dan membawa segerombolan anggotanya untuk bermain perkusi. Tidak hanya perkusi, ada pula gamelan dan pianika. Kemunculan mereka di awal acara cukup memancing perhatian publik. Daripada malam sebelumnya, pengendara motor tidak hanya sekedar henti sejenak, sebagian malah kulihat mengikuti acara hingga usai. Anak-anak yang sebelumnya cuek berseliweran tanpa ampun, diam terperangah sejenak menyimak perkusi tersebut. Melihat ekspresi penonton menjadi sebuah pertunjukan khusus untukku.

Selanjutnya Mas Setiawan dan kawannya dari Komunitas Gitar Klasik Semarang turut berpartisipasi dengan memetikkan beberapa lagu pilihan sendiri dan request dari penonton. Pada lagu entah keberapa, lampu trotoar di sekitar kami padam. Namun ia tetap melenggangkan petikannya dengan tenang. Kaget sebentar, namun sejenak saja aku dan beberapa kawan, justru lebih menyukai suasana tersebut. Hanya lampu dari Gedung Telkom yang sedang dibangun yang menerangi tempat pertunjukan bernaung.

Rasa-rasanya ketika kulihat sekeliling, para pengendara motor yang datang sendirian dan menonton di jok masing-masing seperti makin terhanyut dalam pikirannya yang entah kemana, tak sadar kalau sedang diamati. Seorang pemuda pengamen jalanan terlihat mematung dan membawa gitar ukulele, langsung dihampiri Cak Udin agar turut berpartisipasi. Teman-temannya meminta imbalan yang jauh lebih besar dari yang hendak diberi, lalu pemuda itu menolak permintaan kami dan berlalu.

Karena diberi ruang dan tempat untuk berekspresi sesukanya, para penonton cukup antusias mengajukan diri untuk bernyanyi, bergitaran, atau membaca puisi. Sekelompok pemudi yang menonton didekat kami, yang sebagian berasal dari Maluku, pun akhirnya ikut berpartisipasi setelah mengobrol dengan Cak Udin. Meski setelahnya mereka bilang penampilan mereka memalukan, tapi kukira mereka tak akan lupa dengan kenekatan mereka disana. Datang, duduk, dan menyanyi di jalanan umum. Mungkin hari itu jadi berkesan karena melakukan hal diluar dugaan. Dan mungkin itu perasaan yang sama denganku ketika aku akhirnya ‘terpaksa’ baca puisi malam sebelumnya, juga bisa jadi semua performer dadakan dua malam itu juga merasakan demikian. Melakukan hal yang diluar dugaan, bener-bener happening!

                                   

Mahasiswi Maluku ikut berpartisipasi bernyanyi bersama



Langit Menutup Acara

Pertunjukan (yang tidak sengaja) menjadi yang terakhir dibawakan oleh seorang pemuda yang bernyanyi dengan vokal melayu, lagunya lagu cinta dan mendayu-dayu. Angin semilir mengikuti alunan lagu, dan setetes dua tetes air jatuh pelan-pelan. Kuharap langit bisa menunda tangisnya, namun tak seberapa lama setelah pemuda itu selesai dengan lagunya, tetesan air makin cepat. Penonton berhamburan, dan panitia segera menutup acara. Pukul setengah sebelas acara terpaksa diakhiri. Heran juga, hujan di awal dan hujan di akhir, ia membuat kita tak siap memulai dan mengakhiri. Maka seandainya jalanan ini panggung megah, pertunjukan diusaikan dengan titik-titik air sebagai tirainya. Jalanan kembali lengang, tinggal suara lepas landas air hujan merangkai kesan sabtu malam.


***

nb:
1. Foto-foto diambil oleh Mas Dadang Pribadi dari Komunitas ORaRT-ORET, selengkapnya bisa dilihat disini
2. Foto mahasiswi Maluku dijepret oleh Ratna
3. Tulisan lain mengenai acara ini bisa ditilik di halaman Pak Koskow

25 Oktober 2013

Sapa Pagi



Bunga Kamboja di pot, berbunga beberapa

Senang rasanya, kehidupan lain berdampingan dengan kami,

Ia tak memantau kami, tak minta seteguk air

Ia berbunga begitu saja,

dan memberi senyum tersipu sewarna merah jambu

Bersemu malu memanggilku henti dan mengamati

Hei, aku disini
Selamat Pagi

23 Oktober 2013

19-21




"Suddenly…, I'm not half the man I used to be, 
There's a shadow hanging over me,
Oh, yesterday came suddenly.”
--Yesterday, The Beatles
 

Pagi ini, pukul setengah sembilan, kuusaikan Norwegian Wood.

Yang aku ingat dari buku ini ialah pada suatu ketika di usiaku yang 19 tahun, aku berada di sebuah toko buku Gunung Agung, sendirian memilih buku bacaan yang akan kubawa ke Jogja. Banyak buku dengan sampul yang menarik. Sampul bagus dengan judul terbaik yang bisa kutemukan ialah ukuranku memilih buku saat itu. Aku tak banyak tahu penulis yang handal atau romantis. Yang kupikirkan hanya aku ingin membaca novel. Aku ingat aku berada diantara dua pilihan antara buku berjudul Ca Bau Kan dengan Norwegian Wood. Antara Remy Silado atau Haruki Murakami.

Sampul Norwegian Wood sangat unik, seperti bendera Jepang, namun berjudul ‘Norwegian’, dan judulnya diputar 90 derajat. Komposisi yang menyeret mataku untuk memilihnya. Meski aku menyadari, selera visualku adalah komposisi yang manis, lembut, cerah, sedikit kekanakan, agak keperempuanan. Ia bukan sama sekali seleraku ketika itu.

Judul Ca Bau Kan merayuku, karna aku punya memori yang aneh dengannya. Di usiaku yang ke 17, aku memacari seorang mahasiswa tingkat akhir, dan mentraktirnya nonton Ca Bau Kan. Mungkin baru 2 minggu kita saling memacari. Kutraktir ia nonton, bersama kawanku yang juga membawa kekasihnya. Jadi kita double date, begitu. Namun, demi kesenangan masing-masing, kawanku memilih duduk berjauhan dengan kami. Alhasil kita bak kawan yang bersua tak sengaja di sebuah bioskop, bercakap sebentar dan berpisah di jalan. Aneh juga kalo diingat lagi. Tapi toh aku tak terlalu memikirkannya, aku sibuk meresapi rasanya jalan berdua dengan seorang lelaki yang nekat kupacari tanpa kenal asalusulnya. Tidak ada film yang kami kira bagus saat itu, acak saja aku pilih Ca Bau Kan. Lalu didalam bioskop, kami paling belakang disudut, penonton sedikit sekali, dan sedikit banyak mencuri cium, namun telinga dan mataku masih terbagi dengan jalan cerita. Jadi Ca Bau Kan didalam memoriku, ialah kisah tragis, melankolis, dan aneh. Aku mengingat tembakan, suasana monokromatik, teras rumah, dan gairah. Aneh, didalamnya ada kami berdua seperti masuk dan membumbui cerita, dan kelak setelah memutuskan mahasiswa itu sebulan kemudian, aku muak mengingat alur film itu. Aku merasa menjadi pemain film biru amatir yang dikibuli sutradara.

Tapi itu berarti selang dua tahun kemudian ketika aku berada diantara dua pilihan, Ca Bau Kan atau Norwegian Wood. Lalu sesuatu yang lain, mencuri pandangan dan kuabaikan kedua pilihan yang sulit itu. Aku membeli novel yang tampaknya bisa menginspirasi sisi religiusku. Pada umur itu, aku adalah bagian dari kelompok mahasiswa muslim. Masa yang begitu polos jika diingat diusiaku menuliskan ini. Namun, meski menyadari aku sedang giat berkumpul dengan kelompok mahasiswa relijius itu, toh aku bisa merasai mana tulisan yang menarik dan tidak. Baru satu bab kubaca novel itu, lalu kuabaikan ia. Sebenarnya aku kecewa sekali dengan pilihanku, tapi aku menutupinya. Sejujurnya kurasakan bahwa caranya bertutur sangat payah. Atau mungkin aku yang payah, tak mampu meloncat terlalu tinggi.

Jadi itulah perkenalanku yang tertunda dengan Norwegian Wood. Meski ayahku menyukai Beatles dan menulariku, tapi aku tak tahu ada lagu berjudul itu. Aku hanya tahu sedikit lagu, dan itupun yang populer. Aku melupakan Norwegian Wood, siapa penulisnya pun tak ingat. Tapi sampulnya, aku ingat betul.

Tertundanya Norwegian Wood mungkin baik juga untukku. Kalaupun aku membacanya di usia relijiusku itu, aku mungkin tak banyak dihanyutkan Murakami. Baru setelah meluluskan diri tidak tepat waktu, seorang dosen menyarankanku membaca Norwegian Wood. Ya, tentu saja aku akan membacanya, pikirku, itulah yang kupikirkan sejak pertama melihatnya. Tapi aku tak mau berusaha, bacaan itu akan datang dengan sendirinya.

Kini, aku curiga dengan pilihan buku yang ia rekomendasikan (setelah beberapa tahun, baru aku dipertemukan dengan buku ini tanpa kuusahakan). Ia pernah menyuruhku membaca Kitchen karya Banana Yoshimoto, dan pada proses mengusaikannya, aku merasa ia memberi cermin untuk masa laluku. Begitupun dengan Norwegian Wood. Inipun sedikit banyak menyerempet ke masa-masaku melewati 19-21. Membaca Norwegian Wood, aku jadi merasa memiliki kawan, yang mengabadikan usia itu. Sebenarnya ada lagi, Ayu Utami dalam Eks Parasit Lajang-pun demikian. Sepertinya mata baru setengah terbuka di usia itu, sebelumnya, mungkin aku zombie yang meraba-raba segala bentuk rupa. Tirai panggung baru tertiup angin dan nampaklah sedikit-sedikit cermin ke-diri-an. Itupun masih sedikitsedikit. Sebenarnya bisa juga itu tak berarti apa-apa, kinipun aku masih saja meraba-raba.

Mungkin saat melewati usia itu, aku dipojokkan untuk menuliskannya. Tapi semua memang begitu jelas dan detil, hingga sukar kutuliskan. Aku harus ‘turun gunung’ dan menjauhinya, berjarak dengan waktu…dan menjadikannya semakin kabur apa yang ingin diingat dan tidak. Bertahun-tahun kemudian aku seolah dipermainkan kata-kata, tak tahu apa guna kata-kata tapi selalu berharap padanya. 

“…kukira, bahwa yang bisa dituangkan ke dalam wadah yang tidak sempurna, yang disebut kalimat, hanyalah ingatan dan kenangan yang tidak sempurna. Dan semakin memudarnya kenangan terhadap Naoko di benakku, kukira aku bisa memahaminya lebih dalam lagi”