31 Mei 2012

Teater Penghujung Mei

Menonton pertunjukan khusus seperti teater merupakan suatu kemewahan di Kota Semarang, seperti sebuah oase di teriknya kota yang dipenuhi perkantoran, pabrik, truk dan kontainer yang memenuhi hampir sebagian jalan utama. Setiap pagi manusia-manusia berjejal di jalanan kota, berkendara motor, berdempetan di angkot, menyumpahi pengendara motor yang meliuk seenaknya di gang-gang bermobil, mengeluh angkot ngetem (menunggu penumpang) seenaknya, sambil dilintasi pesepeda yang kesepian dan terpinggirkan, adalah pemandangan yang biasa disini. Pagi yang cerah begitu cepat, gerah yang kepagian, membuat otak mengunci kata santai. Tak ada santai, mekanisme tubuh bergerak begitu saja, tanpa berpikir mengapa harus begitu, apa harus begini, benarkah seperti ini, dsb., ruh manusia sudah menghapal bagaimana semestinya tubuh menindaklanjuti kedatangan matahari. Cerah adalah gerak, sinar berarti harapan, terik menuntut semangat.

Namun Semarang mempunyai warna pagi yang benderang, khususnya di kota bawah. Di kota atas yang berbukit mungkin pagi tak begitu galak cerahnya, namun kegerahan dan kesibukannya sama saja. Hampir kukira, bahwa cuaca terik di kota ini justru membuat suasana hati tak sebanding dengan gairah matahari pagi. Terlalu terik, terlalu panas, terlalu gerah, tuntutan untuk semangat yang keterlaluan. Bagian bumi di titik ini, di kota ini, seperti menyimpan batubara yang terburu-buru menghanguskan ubun-ubun sebelum tengah hari tiba. Lalu setelah sekian tahun berumur jadi ibukota, terik sepertinya tak berkontribusi untuk meninggikan gairah akan hiburan dan seni. Terlampau banyak peluh yang diperas matahari semenjak pagi, tak sempat mengeluti dunia lain, dunia para setan yang nakal berimajinasi, tak berenergi mencari-cari karena yakin, tak bisa dihadiri, atau malah tak ada yang bisa dihadiri.

Wajah kota ini garing prematur, sibuk berbisnis, belagak setara, terburu-buru untuk setara, padahal panas saja sudah membuat keluh berlipat ganda dan merusak mood kerja. Kurasakan, keterburuan yang melupakan diri dari seni, adalah kesibukan yang lelahnya tak berujung. Mengingat bahwa esok hari sudah disambut dengan pagi yang juga terburu-buru, agaknya kita perlu banyak ‘penampakan’ seni di kota ini. Sebuah penampakan yang menunjukkan, ternyata kita tak berarti apa-apa dengan segala kesibukan dan penghasilan luar biasa, tanpa menikmati seni. Ini kurasakan setelah menemukan penampakan teater di kota Semarang, setelah berbulan-bulan garing disengat kota panas ini.

Adalah Teater Kaplink dari Udinus (Universitas Dian Nuswantoro) si inisiator yang membawa penampakan seni di penghujung Mei ini, menggelar hajatan hari jadinya (yang kabarnya ke 16) dengan memboyong atmosfer seni (terutama pertunjukan) ke dalam kampus birunya. Bertajuk WonderLanesia: Appreciation of Art, 3 harmal (28-30 Mei 2012) mereka menyediakan tempat untuk berbagai lomba dan pertunjukkan seni musik dan teater yang sangat menghibur! Sayangnya, aku terlambat sehari mengetahui ada acara ini, dan hanya bisa menikmati jadwal acara malam 2 hari berikutnya, yang diisi dengan pertunjukan Teater Cekat & Wayang Kulit dari Solo, dan Teater Kaplink sendiri di malam terakhir.

Teater Cekat mentas dengan judul “Dhemit”, yang memang diisi dengan banyak dhemit sebagai aktornya. Berkisah mengenai terhambatnya pembangunan sebuah gedung dan jalan disebabkan sebuah pohon yang susah ditebang karena konon dihuni para dhemit. Pembangunan itu juga mengorbankan banyak penduduk desa yang tidak mendapat kompensasi layak atas tergusurnya tanah mereka. Cerita menjadi kocak karena dialog para dhemit yang sok intelek dan terpelajar, sedang ketua mereka yang dipanggil Pak Lurah, adalah dhemit berkarakter kemayu. Setting panggung dan penataan cahaya dibuat dramatis dengan sebatang beringin tua. Penata rias dhemit juga patut dipuji karena hasil kerjanya bagus. Musik latarnya paling oke, vokal para prianya terdengar luwes namun jantan, dan alunan alat musik tradisi membikin suasana trenyuh, hikmad, seram, didapat dengan sempurna (paling tidak menurutku). Dan tentu saja, acting yang jujur dan sepenuh hati adalah bagian yang menyempurnakan pementasan. Inilah mahalnya sebuah teater, semua indera kita terpancing, energi yang tidak main-main untuk sekedar menghibur manusia di kota yang garing sebelum tengah hari. Sekumpulan orang yang memutarbalikkan kenyataan sehari-hari menjadi sekedar lelucon, cemoohan, renungan, menggambarkan dunia perasaan menjadi lambat dan hiperbolis, membuat penonton jadi lebih menikmati keruwetan hidup…

Malam berikutnya, Teater Kaplink menjadi penutup keseluruhan acara dengan mementaskan monolog “Topeng-topeng” dan pentas teater berjudul “Pancasil*t”. Inilah kelompok teater aseli Semarang yang baru saja aku tahu. Monolog yang dibawakan Gembeng merupakan dialog bersahutan pergolakan batin seorang Waska yang mempunyai sisi lain dalam dirinya bernama Semar. Dialog bergantian antara Waska, Semar, dan Gembeng yang sekaligus menjadi narator. Permainan musik latar jenis elektrik mengesankan liku manusia masa kini yang hidup dengan banyak hingar bingar suara sejenis itu. Konflik batinnya kurang terasa, vokal yang digunakan hampir senada ketika membawakan suara hati yang berbeda. Namun naskah yang serius ini dibawakan dengan mimik muka yang apik, jauh dari karakter aktor yang kocak dan nyleneh saat diluar panggung.

Gembeng, Monolog "Topeng-topeng"





Teater Kaplink, "Pancasil*t"


Senada dengan pementasan monolog “Topeng-topeng”  , permainan music elektrik nge-beat masih digunakan di pementasan Pancasil*t, ditambah sorotan slide video garis-garis, kotak-kotak, bulat-bulat, dan siluet perkotaan silih berganti dengan cepat. Berkisah tentang pekerjaan aneh yang menjadi rahasia umum disekitar kita: pembuat jasa skripsi/tesis, calo pns, germo, dsb., yang bekerja demi uang, mengumpulkan modal sebanyak mungkin, dan suatu ketika orang-orang seperti inilah yang terpilih menjadi dewan-dewan di pemerintahan. Rakyat kecil yang dikorbankan oleh mereka, digambarkan dengan sekumpulan lelaki bertubuh kerempeng, bercelana ketat hitam dan kaus putih ketat, terkadang kompak, namun sesekali saling mengejek dan berkelahi sendiri. Di akhir kisah, seorang wanita yang kuduga sebagai dewi keadilan, mengitari para dewan yang tidak jujur tersebut dan mengikat mereka. Dua orang pengamen menutup pementasan dengan mengajak para penonton berdiri menghadap layar yang menyorotkan bendera merah putih, memberi hormat sambil mengumandangkan lagu Indonesia Raya bersama-sama dengan para pemain teater yang sudah berkostum pengibar bendera pusaka. Suasana menjadi hikmad karena kekompakan antara pemain dan penonton yang menyanyi bersama-sama, meski bendera yang dikibarkan hanyalah sorotan virtual, dan meski itu bukan upacara sungguhan, semua tampak bersungguh-sungguh memberi hormat, seakan dirasuki nasionalisme dadakan.

Teater 2 malam itu, adalah semangat dadakan yang merasuki kami. Mungkin untuk menikmati hidup lebih baik, mungkin untuk bersyukur bahwa Semarang juga menciptakan para pelakon teater yang kualitasnya tidak kalah dengan kota sebelah. Mereka, yang mencintai seni perannya dan tidak menguap sia-sia oleh teriknya kota.  


Peradaban kota memberi ruang cerita, membikin kehidupan menjadi drama dan manusia menjadi tokoh. Teater adalah penanda kehidupan, penggali hati nurani. Ia memberi makna pada kota, namun kota seringkali absen suara, absen mata, absen telinga, absen raga. 

26 Mei 2012

metamorpholier

metamorphodreams, 260512


Pagi tadi rumah gantungnya kosong, pintunya robek, berubah kilau emasnya menjadi sebening plastik. Setelah sekian hari mengamati, menanti, dan mengharap-harap..akhirnya dia berpamitan subuh hari tadi. Daun jendela kubiarkan melambai bila angin bertiup, mungkin ia menengokku sebentar dan pergi, meninggalkan jejak di ingatanku. Tahu-tahu rumah singgahnya sudah melompong. Aku gagal berjumpa dengannya..dan rasa kehilangan terasa perlahan-lahan. Sebagai makhluk jelek yang tak ingin disentuh dulunya, ia mulai menimbulkan rasa ingintahuku. Seperti apa ia nantinya jika ia sejelek dan segalak itu..? Hitam, berduri, lunak, bergeronjal, rakus. 

Namun kita tak berjodoh rupanya. Bahkan caranya berpamitan pun sangat tidak ramah dan tak menyenangkan. Aku dibiarkannya menganggap ia mati sebelum jadi cantik. Ia mati diremas ibuku dan dibuang ke sembarang arah. Aku berteriak-teriak, meneriaki ibuku jahat dan kejam. Padahal aku sudah menunggumu, membicarakanmu dengan si dia, dan membayangkan bisa bersaksi di hari kelahiranmu. Kamu lahir prematur atau aku yang melupakan hari H mu? Kamu sungguh segalak itu padaku. 

Tapi memang tak semudah itu, aku tahu. Yang penting kamu sudah menyapaku, meski sedikit menyeramkan caramu itu. Pergilah, bekerja sebaik-baiknya, dan beranaklah di tempatmu semula lahir, jika kau berkenan.

30 April 2012

Bebunyian Sunyi


Dibawah langit hitam: deruan motor berseliwer, tancapan gas mobil kencang-kencang, decitan rem mendadak, dciiittt!!! ngingg… ngeeengggg …whuzzzz…zzzeeeesss…,, breerrrrr,,,,, wheusszzz…

Dibalik kamboja pot berbunga satu: tatapan dan terawang tanpa tujuan,, tanpa gumaman, diam menekur langit dibalik hiasan kamboja pot, berpikir sambil sedikit mengeluh, hemm… hemm..., slurp, glek,glek.. diminumnya habis kopi instan manis yang keburu mendingin karna angin malam. Hem…kesunyian malam yang berisik. Tak ada suara lagi di rumah ini, tinggal aku sendiri, mencari sunyi yang diharap-harap mengajakku beradu imaji. Namun sebenarnya, sunyi tak bisa sendiri. Selalu ada bunyi. Ketika aku mencoba sunyi, bersengaja diam, diam tanpa suara tenggorok dan kicauan lidah, aku malah mendengar banyak bebunyian. Yang paling meneror tentunya suara dibalik kepala, yang menentukan perihal antah berantah yang saling beradu tampil, yang seolah penting.

Teror paling jelas berada di luar halaman rumah, jalan di gang beraspal yang tak jauh dari jalan raya beraspal, disitulah mesin-mesin bermotor menyumbang bunyi yang makin jelas justru di sepertiga malam. Mesin yang dikendalikan oleh jiwa muda penggemar tancap gas, keromantisan jenis absurd yang bisa kubayangkan. Namun terror keduanya tak menghalangi suara detik jam, meski sedikit timbul tenggelam, suara yang seharusnya bisa menjadi alternatif pengantar tidur selain menghitung kambing hitam dalam hidup kita. Tik, tik, tik… Aku berpikir, tanpa tujuan, bahwa aku mengharapkan paling tidak: ketenangan, suatu ketenangan yang stabil diantara provokasi bunyi yang selalu mampu kutangkap. Aku berbakat menangkap bunyi yang sebenarnya tak kubutuhkan, hampir selalu mengacaukan konsentrasi.

Lalu seekor burung mengicau panjang, nguiiikk… atau, nguiiit..? Panjang, paling banyak diulang tiga kali. Hampir setiap malam aku mendengarnya. Pertama kali aku mencurigai, pertandakah ia? Apakah tentang kematian, atau suatu peringatan..? Lalu aku menjadi sangat terbiasa, karena ternyata ia selalu berkicau di tengah malam. Bunyi yang bisa kutolerir sederajat dengan detik jam. Kebiasaan tak lagi membuatmu curiga, begitupun dengan suara tukang sate yang memecah kesunyian dini hari, tek-tek-tek-tek-tek-tek.., mengadu rejeki dibalik pintu pagar yang telah tertutup rapat, dan redup hitam dibalik ventilasi. Kukira mereka semacam seniman yang mengadu karyanya dengan sedikit apresiator, sedikit yang bisa menikmatinya, namun karena sedikitnya, ia mencandu kejutan, ketidakpastian, yang mana satu dari sekian ribu pasti ada juga yang nyantol di hati, pasti ada juga yang lapar dan memanggilnya. Seperti jodoh.

Aku menggaruk kepalaku dan terdengar usrekkan jelas ditelingaku. Sedikit menelan ludah, glek, dan mengecap lidah yang usai dijejaki kopi. Manis, pahit. Mengusap hidung, agak gatal seperti ingin bersin, srot-srot, kutarik mereka lebih kedalam agar tak jadi bersin (pelan-pelan ia turun kembali dan mendorongku agar bersin dan kuulangi menariknya lebih dalam). Aku pernah mengheningkan badan dan mata, namun cerita selalu bergulir lewat telinga. Andaikan aku menjadi budekpun, aku sudah terlanjur pernah bisa mendengar, sama halnya seperti si buta yang dahulu pernah bisa melihat. Keterlanjuran tak akan bisa mematikan imajimu.

Entah, mana yang harus lebih dulu kudengar untuk kuterjemahkan. Bebunyian diluar pagar sudah bisa kuabaikan, menjadi latar suara buram dan mengosongkan ruang untuk suara yang lebih jelas. Kurasa aku sudah mensortir beberapa tema yang penting, namun bebunyian dibalik kepala terasa sedikit membingungkan (atau malah mengasyikkan?). Pekerjaan, kawan, pekerjaan, kekasih, pekerjaan, mimpi-mimpi, pekerjaan, kawan, masa lalu, pekerjaan (lagi!), berkarya, oh…! Ah, sebaiknya aku membaca, ini lebih mudah kulakukan. Hemm.., tapi, mengapa menghindar lebih lama lagi, aku bisa menuliskan ini, aku gelisah dalam menerjemahkan apa yang sesungguhnya kuingini. Dan sepanjang usia-memutuskan-sendiri, aku selalu merasa aku terlalu banyak bermimpi namun terlalu sering ragu untuk menggapainya. Memikirkan sebab-sebabnya membuat renungan ini jatuh menjadi keluhan. Dan aku ingin selalu berhenti memikirkannya, apa pekerjaanku, apa ini cukup memberi kesenangan sekaligus kejutan…?Apakah tujuan, apakah perlu motivasi?

Aku terlalu banyak bersuara, aku terlalu banyak mendengarkan suaraku sendiri. Tiba-tiba aku menangkap suara gemerincing lonceng yang seirama dengan sebuah langkah, mirip langkah kuda. Sebentar saja ia hilang. Aku kembali di pikiran sebelumnya. Tentang…, ah, tentang terlalu banyak mendengar bunyi. Bertelinga tapi tak bertelinga. Mendengarkan tapi tak mendengar. Tak mendengarkan tapi mendengar. Karena telinga memberi kita cara untuk mengeja dan memberi nama, mendorong tangan-menggores, membuka mata-mematri, maka bermain-mainlah aku dengan kata-kata. Terlalu serius bermain. Dan tenggelamlah aku dalam diri sendiri, samudra kata-kata yang luar biasa kacaunya. Tak berbunyi, tapi membentuk kata, membentuk rasa.   






23 April 2012

water portrait

dombul, 190412

kabun, 230412


mom, 180412






Potret mereka, yang saya anggap (sedikit) mirip aslinya, adalah potret Dombul. Tapi menurut si empunya wajah, gambar itu masih jauh dari mirip, jelek katanya. Gambar Mom dibilang mirip orang Bojonegoro pembantunya simbah (>.<), kurang gemuk katanya (dia ngotot supaya gambar "Orang Lain" itu jangan dipajang! ). Sedang gambar kabun belum sempat dikomentari sebelum saya upload disini. Sudahlah, yang penting saya menghasilkan sesuatu seminggu ini^^'

19 Maret 2012

Menyimak: Percakapan Diam-diam



Buku puisi pertama yang saya baca tahun ini lebih menarik dari buku puisi yang saya baca beberapa tahun lampau, sekitar dua atau tiga tahun lalu (lampau: kedengarannya sangat lama sekali ya?) Dan ya, buku puisi adalah hidangan musiman untuk dibaca, seperti buah musiman yang belum tentu kita beli, buku ini saya peroleh bukan juga atas kehendak sadar saya, ia adalah buah tangan dari seorang kenalan baru yang rupanya kawan lama dari illustrator buku puisi ini, Koskow

Perangkai kata-kata singkat nan 'dalam' ini ialah Lelaki Budiman, dan salah satu alasan yang membuat buku puisi ini menarik adalah kemasan-nya yang collectible (maksud saya layak koleksi). Saya pribadi, kurang menyukai membeli buku puisi, yang saya takutkan tidak membekaskan inspirasi apa-apa untuk hari-hari saya selanjutnya. Kalau mau membaca rangkaian kata yang bagus saya bisa tanya mesin pencari di langit-langit, tanpa membeli bentuk fisiknya. Banyak sekali, dari penulis blog amatir seperti saya, sampai penulis professional. Memang mudah dan efisien, tapi tentunya,  seperti karya lukis, puisi juga punya kanvasnya sendiri. Bila tidak, ia seperti hantu ide yang melayang dan belum jelas penampakannya. Puisi butuh pijakan. 

Dalam buku ini, bukan puisinya semata, atau ilustrasinya seorang, namun perpaduan keduanya-lah menghasilkan ‘pijakan’ atau karya tersendiri yang saya bilang collectible. Berikutnya saya dimanjakan oleh tata ruang yang sama ‘berpuisinya’,  alias jeda yang ikut mewakili perasaan penulisnya, sekaligus interpretasi ilustratornya. Desain buku ini-pun secara keseluruhan mewakili ‘rasa’ puisi-nya. 

Kemasan puisi bisa saya uraikan seperti ini: Apabila puisi disampaikan dalam bentuk pertunjukan, maka rangkaian kata-nya harus dibantu oleh mimik muka, seting panggung dan pencahayaan, olah vokal, bahkan penampilan si penyair itu sendiri. Nah, pendengarnya bisa jadi terpukau, ikut trenyuh, ikut marah atau malah bosan. Maka seperti halnya pertunjukan puisi, apabila puisi disampaikan dalam bentuk buku, elemen visual dua dimensi-lah yang akan membantunya lebih ‘memukau’, atau setidaknya lebih patut untuk dimiliki (dan harapannya agar lebih diapresiasi). Kurang lebihnya, puisi Lelaki Budiman telah memiliki ‘ruang pijaknya’, dengan menggandeng illustrator yang (saya kira) juga menyukai puisi, dan desain tata letak yang menjembatani kata-kata dan ilustrasi dengan cukup baik. Kalau butuh penyimak, kolaborasi seperti ini lebih menarik untuk orang kebanyakan yang sudah lupa ada puisi di dunia ini. Dan kalau butuh peneliti bagaimana puisi layak divisualkan dalam bentuk buku, buku ini bisa menjadi eksperimen Anda. 

Mungkin saya terlalu ber-omong-omong dari sisi visual, karena menurut saya, buku puisi ini memang tidak lagi sendirian milik si penulis ketika ia sudah mempunyai ruang berpijaknya, yang notabene: dipatrikan dengan mata, dan itu berarti ia sudah menjadi karya visual. Lihat pada lembar berjudul Jejak Kemarau, Suatu Pagi di Alun-alun Kecil, Setelah Sunyi, Surat Pendek untuk Calon Istriku :

Jejak Kemarau

Surat Pendek untuk Calon Istriku

Adalah Kau

Setelah Sunyi

Sebab Kematian Adalah Berhala Semua Agama


Penggalan dalam judul, penggalan dalam isi puisi, lembaran hitam pekat, kalimat yang dibikin melingkar, dan bahkan huruf-huruf dengan ukuran kecil pada bait pertama, lalu semakin membesar sampai pada bait ketiga dalam puisi Sebab Kematian Adalah Berhala Semua Agama, adalah eksplorasi secara visual selain ilustrasi, yang berusaha diungkapkan si penulis (atau mungkin ide orang lain, entahlah, tapi setidaknya ia sudah memakai cara visual tertentu agar puisinya ter-rasa-kan).  

Jadi, buku puisi yang diterbitkan dan dijual terbatas ini, adalah sumbangan ide mengenai kemasan puisi, bukan sekedar ide mengenai isi puisi itu sendiri. Yang belakangan adalah sangat umum, dan tentunya diterbitkan dengan ‘kegelisahan’ bahwa penerbitan buku puisi adalah salah satu cara untuk merugikan penerbit (:P). Buku puisi ini, lantang dan maksimal, dan saya yakin dibikin dengan kolaborasi sepenuh hati dari penulis, illustrator, dan desainernya. Tinggal, bagaimana Anda melacak penulis, illustrator atau penerbitnya untuk (siapa tahu) cetak ulang, mengkoleksinya, dan…  Anda tahu apa yang saya maksudkan:)